Pengembangan Storyboard e-Learning

4 min read

Pengembangan Skala Storyboard e-Learning

Ahmaddahlan.NET – Bayangkan anda berada sedang di tengah hutan dan tersesat karena pohon-pohon yang ada terlihat serupa. Pohon-pohon tersebut tentu saja bukan petunjuk jalan keluar yang baik, namun kompas dan peta bisa menjadi alat bantu yang tepat agar bisa keluar dari hutan.

Peristiwa ini bisa dijadi analogikan pada saat mengembangkan website berbasis e-Learning. Website yang hanya sekumpulan laman-laman akan terlihat seperti labirin bagi pengembang jika mereka tidak punya road map tujuan pengembangan e-Learning tersebut.

Dalam pengembangan e-Learning, Road Map tersebut dikenal sebagai Storyboard. Storyboard e-Learning berisi banyak informasi mengenai langkah-langkah, tujuan, panduan, kegiatan, dan detail dari pengembangan website e-Learning

A. Storyboard e-Learning

Storyboard (papan cerita atau papan alur) adalah serangkaian petunjuk baik berupa gambar, bagan, simbol atau kalimat yang menjelaskan tentang alur sebuah program atau kegiatan yang dilakukan. Storyboard itu sendiri bisa berisi alur cerita keseluruhan program maupun detail dari setiap mata program.

Dalam pengembangan e-Learning, Storyboard bisa diartikan sebagai sebuah papan informasi yang digunakan untuk mengontrol pengembangan program e-Learning dalam hal ini adalah website atau aplikasi pembelajaran.

a. Peran dan Manfaat Storyboard

Secara umum Stroryboard memiliki peran sebagai sumber informasi utama yang digunakan pengembangan dalam hal melengkapi seluruh fitur yang konten yang ada dalam e-Learning. Pada kasus ini, Storyboard lebih terlihat seperti Road Map yang bisa menunjukkan posisi dan proses berdasarkan rancangan umum pengembangan e-Learning.

Namun selain tersebut Stroyboard bisa memiliki beberapa peran khusus seperti berikut :

1. Visualisasi Ide dan Model Pembelajaran

Pembelajaran yang baik diawali dengan peracangan proses kegiatan belajar dan mengajar yang sesuai dengan tujuan dari pembelajaran itu sendiri, baik itu tujuan lulusan program maupun tujuan setiap pertemuan/topik. Rancangan ini memberikan gambaran kepada guru mengenai aktifitas yang akan dilakukan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran. Dalam dokumen pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum, hal ini disebut sebagai Rancana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP. RPP ini kemudian dilaksanakan oleh guru di dalam kelas dalam bentuk pembelajaran.

Pada pengembangan aplikasi dan website pembelajaran dan sebelum kelas dimulai, Storyboard membantu perancangan untuk mevisualisasikan ide dan rancangan ke dalam tampilan laman-laman e-Learning sebagai ruang belajar virtual peserta didik. Stroyboard memberikan informasi mengenai Jenis file dan konten dari setiap laman agar setiap aktifitas yang ada di dalam kelas virtual memiliki dampak dalam pembelajaran. Jika memungkinkan, Storyboard jika bis amemberikan pilihan jenis file dan konten pembanding dengan mempertimbangakn sisi aksesbilitas dan kemampuan perangkat peserta didik saat melakukan pembelajaran.

Bisa dikatakan bahwa Storyboard adalah jembatan antara RPP dan Proses Pembelajaran di dalam kelas virtual.

2. Memudahkan Koordinasi Tim Pengembangan

Semakin besar program e-Learning yang dibuat maka semakin besar pula ukuran tim yang akan bertugas dalam proses pengembangan. Untuk mengarahkan tim ini agar bisa mencapai tujuan yang sama dengan konten dna tugas yang berbeda-beda, Storyboard bisa dijadikan sebagai acuan yang baik dalam mendeskripsikan Job deskripsi masing-masing selama proses pengembangan.

Storyboard juga membantu proses komunikasi asynchronous antar anggota tim yang mungkin saja akan sedikit mengganggu jika dilakukan komunikasi langsung, kecuali dalam kasus khusus yang membutuhkan penanganan bersama seluruh dengan anggota tim.

3. Modul Evaluasi yang Ringkas

Dokumen storyboard e-Learning yang baik berisi informasi lengkap baik secara keseluruhan maupun sub-sub, block-block dan topic-topi kegiatan pembelajaran. Setiap bagian dari unit-unit tersebut kemudian dikerjakan berdasarkan keahlian dari anggota tim. Proses ini sangat memudahkan proses evaluasi karena proses pengecakan tidak perlu dilakukan secara menyeluruh namun bisa fokus berdasarkan laporan dari pekerjaan dari setiap unit.

Tanpa Stroyboard, proses Evaluasi mungkin saja hanya bisa dilakukan sesudah program, aplikasi, atau website e-Learning digunakan, namun dengan Storyboard, proses evaluasi bisa dilakukan sebelum program berjalan atau di pada saat sebagian program telah berjalan, jika saja ada laporan mendadak dari unit-unit pengembangan (anggotan tim).

4. Save Time

Banyak pengembang e-Learning profesional menyatakan jika Storyboard sangat membantu mereka menghemat waktu pada proses pengembangan dan evaluasi. Perubahan bisa dilakukan fokus pada masalah yang ditemukan semata.

Meskipun pembuatan storyboard yang lengkap akan memakan waktu namun waktu yang digunakan membuat storyboard jauh lebih singkat dibanidngkan dengan pengembangan e-Learning tanpa storyboard.

B. Bentuk-bentuk Storyboard

Bentuk umum dari storyboard adalah dokumen-dokumen yang berupa prototipe, slide, papan klip yang berisi instruksi-isntruksi pada pengembangan e-Learning. Bentuk dari dokumen-dokumen ini tidak memiliki bentuk baku namun dokumen ini dibuat se-informatif mungkin dengan bahasa yang mudah dimengerti meskipun tidak menggunakan bahasa formal.

Beberapa bentuk e-Learning sederhana mungkin saja dikembangkan tanpa storyboard, misalnya untuk pertemuan 2 x 45 menit untuk aktifitas ujian. Namun semakin banyak akitiftas yang akan dilakukan di e-Learning, maka semakin banyak pula langkah-langkah yang harus dilakukan oleh peserta didik. Pengembangan harus menyiapkan seluruh fitur untuk memenuhi langkah-langkah tersebut.

Meskipun tidak memiliki bentuk baku, Storyboard bisa dikembangkan dalam bentuk standar sebagai berikut :

1. Text-Based Storyboard

Storyboard Text-Based adalah storyboard yang berisi instruksi yang didominasi kalimat dan susunan kata-kata. Storyboard disusun secara berurut berisi instruksi yang jelas seperti Judul scene, Fele Media, Instruksi dan Aktivitas, Visualisasi User Interface.

Bentuk storyboard ini dibuat untuk hal-hal yang bersifat detail dalam memberikan informasi namun kurang aspek visualisasi. Informasi dan instruksi ditempatkan dalam kolom-kolom yang rapi seperti berikut ini :

Seperti contohnya di bawah ini :

Template Storyboard elearning

Download template Storyboard

2. Point / Keynote Storyboard

Point-Based Storyboard adalah storyboard yang berisi point-point penting (keynote) yang memberikan gambaran road map kegiatan secara sederhana. Keynote disusun dalam satu slide secara runut dari awal kegiatan sampai awal.

Selain point kegiatan, penjelasan singkat mengenai scene dan durasi waktu juga bisa sangat membantu dalam menvisualisasikan proses kelas berdasarkan tujuan dari masing-masing aktifitas.

Contoh Stroyboard pembuatan Konten dan Website e-Learning

3. Card-Based Storyboard

Card-Based storyboard adalah bentuk storyboard berbentuk susunan kartu-kartu. Storybaord ini sangat cocok dipasangkan dengan Point-Based sebagai pelengkap informasi yang dibutuhkan jika diperlukan.

Bentuk Storyboard ini lebih Visual dan memberikan gambaran lengkap dari satu scene ke scene lainnya. Informasi yang diberikan sanbat detail untuk satu scene termasuk tata letak, warna dan aktiftas yang dilakukan. Tujuannya untuk para UI desainer yang mendesain laman demi lama dari e-Learning.

Kekurangnya dari Storyboard ini butuh waktu lama dalam pembuatannya dan juga dokumen yang dihasilkan jadi lebih gemuk dan padat

Card-Based Storyboard Slide dan model e-Learning

C. Komponen Storyboard

Berdasarkan tujuan pembuatannya, e-Learning dikembangankan dengan banyak komponen. Komponen tersebut bisa saja tidak seragam dalam satu dokumen e-Learning, namun pada umumnya komponen ini digunakan untuk membantu proses pembacaan storyboard oleh pengembang.

Adapun beberapa komponen yang sering ditemukan dalam e-Learning sebagai berikut :

1. Scene Number

Screen Number sangat berguna pada penyusunan e-Learning berskala besar dimana akan ada banyak nama scene yang mungkin saja sama dan akan menyulitkan proses penyusunan. Sebut saja misalnya screen pembukaan pada e-Learning dengan 16 kali pertemuan, maka nama scene pembukaan akan berulang sebanyak 16 kali, sehingga akan menyusahkan untuk mengurutnya, ditambah jika sudah dicampurkan dengan banyak scene lainnya.

Nomor Scene adalah metode yang paling baik untuk mengelompokkan storyboard berdasarkan scene demi scenenya. Langkah pembuatan dilakukan melalui pengelompokan berdasarkan katgeori paling umum kemudian ke khusus.

Sebagai contoh bentuk pengelompokkan sebagai berikut :

Scene NameLaman 1 (L1)
Modul Modul PDF 3 (PD3)
Section NumberSection 2 (S2)
Nomor Topic NumberTopic 1 (T1)
Nomor Kontenvideo 1 (v1)
photo 21 (ph21)

Berdasarkan tabel di atas, maka scene number untuk file tersebut diberi nama L1PD3S2T1v1ph21. Penomoran ini akan memudahkan proses pemberian informasi kepada pengembang terkait proses perbaikan dan penambahan.

2. Modul

Modul adalah penamaan file-file untuk tipe dokument yang berisi tentang materi pokok yang akan dimasukkan ke dalam e-Learning. Hal ini ertujuan untuk memberikan informasi kepada pada pengembangan mengenai materi yang adakan dimasukkan ke dalam e-Learning.

3. Nomor Konten

Nomor konten adalah pemberian nomor untuk seluruh konten yang akan dimasukkan ke dalam scene. Konten ini biasanya disebut sebagai media atau penamaan semau media seperti video, suara, gambar, garfik, infografiks, dan jenis file yang akan dimasukkan ke dalam e-learning.

4. Developer Note

Developer Note adalah catatan penting untuk developer untuk langkah-langkah yang mungkin tidak umum dilakukan seperti pemberian efek, menghubungan kan dengan scene yang atau hal-hal yang dianggap perlu.

Tinggalkan Balasan