Pengertian dan Aspek Keterampilan Proses Sains – KPS

3 min read

Keterampilan proses sains mengamati observasi dengan mikroskop

AhmadDahlan.NET – Salah satu tujuan penting dalam pembelajaran di sekolah adalah mengajarkan peserta didik dalam keterampilan berfikir. Semua proses pembelajaran memenuhi kebutuhan tersebut disamping kompetensi dasar lulusan yang dibebankan oleh lembaga pendidikan dalam hal di Indonesia adalah Badan Standar Nasional Pendidikan (BSPN) terutama dalam pembelajaran sains. Pembelajaran sains memberikan kontribusi dalam membentuk skill unik dari peserta didik seperti membuat hipotesisi, memanipulasi fenomena alam dan membuat kesimpulan dari data yang ada.

Pembelajaran sains yang baik akan melibatkan banyak keterampilan seperti metode sainstik, berfikiri sainstifik, dan berfikir kritis. Keterampulan tersebut disebut sebagai keterampilan sains selanjutnya pada dekade ini lebih dikenal dengan sebutan Keterampilan Proses Sains atau KPS

KPS adalah seperangkat keterampilan yang digunakan memahami fenomena alam dengan berbagai metode yang merefleksikan perilaku saintifik. Metode yang digunakan baik dari motode sederhana, menguji coba samapai melakukan pemodelan sederhana dan kompleks. Berdasarkan SAPA (Science – A Proccess Aproach) dan Padilla, Keterampilan Proses Sains dibagi ke dalam dua kelompok yakni Keterampilan Sains Dasar yakni keterampilan proses sains sederhana yang memberikan dasar yang baik untuk mempelajari keterampilan proses sains teringrasi.

A. Keterampilan Proses Sains Dasar

Keterampilan proses sains dasar adalah keterampilan proses sederhana yang bisa dilakukan dengan melibatkan satu aspek dari setiap aspek-aspek keterampilan proses sains yang ada. Adapun aspek keterampilan proses sains dasar ini adalah :

1. Observasi

Observasi adalah kemampuan menggunakan indera manusia untuk mendapatkan informasi dari objek yang sedang diaamati. Aspek pengamatan ini tidak membutuhkan alat ukur untuk mengumpulkan data sehingga data yang didapatkan akan sederhana.

Contoh informasi yang didapatkan dari observasi adalah

  1. Kelopak Bunga berwarna kuning
  2. Jumlah mahkota bunga 4
  3. Suhu es batu lebih dingin
  4. Bulan berbentuk lingkaran

2. Inferensi

Inferensi adalah kemampuan menarik kesimpulan atau menebak kejadian berdasarkan data sederhana atau pola-pola yang telah diamati sebelumnya.

Contoh aspek inferensi ini seperti menarik kesimpulan bahwa 3 jam yang lalu telah terjadi hujan di daerah ini karena terdapat genangan air dan aspal yang basah. Sekalipun yang membuat inferensi tidak ada di lokasi tersebut 3 jam sebelumnya.

3. Pengukuran

Keterampilan menggunakan alat ukur dengan satuan yang sudah standar (baku) dan juga tidak standar. Keterampilan ini juga berkaitan dengan kemampuan mendiskripsikan dimensi dari suatu objek.

Contoh keterampilan ini adalah mengukur panjang meja dengan meteran sedangkan untuk contoh pengukuran tidak baku adalah mengukur panjang meja menggunakan lengan sendiri sekiranya di tempat itu tidak ada meteran baku.

4. Komunikasi

Keterampilan berkomunikasi adalah kemampuan untuk menyampaikan dan membaca informasi menggunakan kata, garfik, simbol, dan gambar.

Contohnya adalah memahami makna dari grafik perubahan jarak terhadap waktu.

5. Mengkalsifikasikan

Keterampilan mengklasifikasikan adalah kemampuan membuat deskripsi dari setiap obejk dari sifat umum ke khusus kemudian dijadikan dasar untuk mengelompokkan objek tersebut berdasarkan kriteria yang sudah dibuat.

Misalnya mengelompokkan burung berdasarkan bentuk kaki, paruh, sayap atau warna bulunya.

6. Prediksi

Prediski adalah kemampuan menduga atau menebak kejadian yang ada di masa yang akan datang berdasarkan pola dan bukti yang ada. Misalkanya menduga memperikan jarak tempuh dari sebuah mobil yang bergerak dengan kecepatan tertentu atau menebak tinggu tanaman 2 minggu kemudian berdasarkan grafik pertumbuhan tanaman 4 minggu sebelumnya.

B. Keterampilan Proses Sains Terintegrasi

Keterampilan proses sains terintegrasi adalah keterampilan yang melibatkan dua atau lebih keterampilan proses sains dasar yang juga bisa disatukan dengan keterampilan-keterampilan lain seperti berfikir kritis, creative, kolaborasi, dan lain-lain.

Adapun daftar aspek-aspek dari keterampilan porses sains terintegrasi adalah :

1. Mengontrol Variable

Kemampuan untuk mengindetifikasi dari varibale-variable yang dapat memberikan damapak terhadap variable lain. Keterampilan ini juga menuntut peserta didik untuk mampu menjaga nilai satu atau lebih varibale untuk melihat efek dari varibale bebas ke variabel terikat.

Milsanya mengontrol jumlah air, kondisi cahaya dan suhu pada tanaman yang diberikan perlakuan dengan pupuk yang berbeda.

2. Membuat defenisi operasional

Memberikan penjelasan mengenai variabel-varaibel yang ada dalam percobaan serta memberikan penjelasan mengenai dampak yang dihasilkan dari variabel tersebut.

Misalnya menyatakan bahwa tegangan tali dalam percobaan dijaga konstan untuk melihat pengaruh pertambahan panjang terhadap jumlah gelombang yang terbentuk pada percobaan Hukum Meldey

Contoh lain yang lebih sederhana seperti membeirkan penjelasan mengapa suhu udara dan panas matahari harus dijaga dalam percobaan pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan tanaman.

3. Membuat Hipotesis

Membuah hipotesisi adalah bentuk advance dari aspek memprediksikan. Keterampilan ini adlah kemapaun untuk menduga dengan tepat apa yang akan terjadi terjadi dalam percobaan berdasarkan rujukan datau referensi yang sudah ada sebelumnya.

Misalnya sebuah sumber menginformasikan bahwa sebuah tanaman hijau seperti kangkung dan sawi dapat memicu amoniak jika direaksikan dengan asam.

Maka ia membuat hipotesis bahwa semakin banyak kaungkung dikonsumsi kelinci akan semakin busuk pula kotoran kelici.

Bisa juga hiptesis yang disusuna dalah semakin banyak sayuran hiaju yang dimakan kambing maka semakin subur kototoran kambing tersebut untuk dijadikan pupuk. Karena amoniak dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

4. Menginterpetasikan Data

Keterampilan ini adalah keterampilan menganalisi data-data yang ada melalui metode yang akurat seperti analisis statistik atau deskripsi untuk menarik kesimpulan berdasarkan data-data tersebut.

Contoh keterampilan ini adalah menarik kesimpulan mengenai bibit yang baik digunakan di suatu daerah berdasarkan percobaan yang dilakuakn di daerah lain dengan mempertimbangkan berbagai aspek misalnya suhu dan kondisi tanah, sehingga bisa saja Bibit A lebih unggul tumbuh di percobaan, namun daya tahan Bibit B, dianggap lebih cocok ditanaman di daerah X karena kondisi yang alam didaerah tersebut.

Keterampilan interpretasikan data ini tidak bisa beridiri sendiri, tapi harus didukung dengan keterampilan mendefenisikan variable dan mengontrol variabel yang baik. Tanpa dilengkapi data ini bisa jadi metode pengambilan kesimpulan sudah benar berdasarkan teoretik tapi tidak fit dengan kondisi nyata.

Misalnya data ujian akhir semester dari suatu kelas menunjukkan perempuan meliki skor yang lebih tinggi dibandingkan pria pada mata pelajaran fisika, maka disimpulkan bahwa Perempuan jauh lebih pandai dalam belajar fisika daripada pria. Padahlan tidak satu sumber rujukan pun yang pernah menganalisis jalur hubungan antara gender dan kemampuan berfikir suatu inividu.

Selain itu kesimpulan ini jadi tidak begitu berguna karena berdasarkan pernytaan kesimpulan untuk menjadi pintar fisika, seorang pria harus menjadi wanita.

5. Menguji Coba (Experimenting)

Aspek melakukan percobaan adalah kemampun untuk menyusun dan melakukan percobaan. Aspek ini memiliki dimensi KPS yang kompleks yang melibatkan banyak ketermapilan seperti keterampilan bertanya, menyusuh hipotesisi, mengidentifikasi varibel, mengotnrol variabel, membuat desain percobaan, melakukan percobaan, mengumupkan data, menganalisis dari dan mengahsilkan kesimpulan dari uji coba yang telah dilakukan.

6. Memformulasikan model

Aspek ini adalah kemampuan untuk membuat pemodelan berdasarkan fakta atau fenomena yang didapatkan secara ilmiah. Pemodelan bisa dilakukan dari data besar ke kecil seperti membuat percobaan momentum di dalam lab untuk mengukur seberapa kuat daya tahan sebuah mobil terhadap benturan.

Hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya misalnya menghitung seberapa besar diameter kawat yang digunakna untuk mengalirkan daya listrik 20 MW berdasarkan percobaan yang dilakukan di dalam lab dengan arus yang lebih kecil.