Ahmad Dahlan God does not play dice with the Cosmos.

Anda Sarjana Fisikanya, Apa?

3 min read

“Anda sarjana fisikanya, apa?” Tanya HRD kepada seorang pelamar kerja.Dengan penuh kebingungan, si pelamar menjawab. “saya sarjana fisiknya, lulus pak!!!”.

Si pewawancara cuman ngumpat dalam hati, “inikah ijazah kamu bambang, Pasti luluslah!!!”

Ini adalah fantasi liar saya tentang pembicaraan, kelak di sebuah ruang wawancara perusahaan tambang, malam ini, Satu pekan setelah semester ganjil tahun ajaran 2022/2023 di mulai.

Kelas-kelas saya dalam jendela digital penuh sesak, segemuk SKS ketika saya kuliah dulu. Hanya saja sedikit ironi yang terjadi di ruang-ruang kelas yang saya sedikit kusam dan berdebu. Sunyi, senyap, tak ada mahasiswa hanya sekumpulan bangku dan meja yang saling tatap-tatapan.

Mereka semua sudah sibuk dengan kegiatan baru mereka yang lebih merdeka. Bebas dari kekangan harus belajar fisika mulu di jurusan fisika. Sesekali boleh dong mereka belajar seni desain, teknik jualan jasa bantuan finansial, atau mengajar anak-anak yang nyaris putus sekolah karena di kampung mereka tak ada guru sekolah dasar.

Mereka adalah jiwa yang lahir merdeka, jadi janganlah kekang dan bungkus dalam balutan “Sarjana Fisika”.

Merdeka untuk tidak belajar fisika, yah 3 semester cukuplah buat berpertualang melalang buana muka bumi ini. Mempelajari ilmu tentang meriam bambu di sebuah kampung yang dahsyatnya setara melebihi Mekanika Kuantum, Rumitnya bentuk unsur di fisika Inti atau malah tekanan udara panas di termodinamika, kenang ingatan di memori saya tentang status whatsapp di grup-grup rekan kerja.

Beberapa mahasiswa terlihat lalu lalang di ruang admin jurusan dengan wajah sedikit tua dari mahasiswa baru yang masih lugu. Mereka ini tinggal di kampus karena belum atau tidak punya hak lagi “kabur” dari kampus, kalau saja bisa Pasti mereka kabur.

“Pak apa saya bisa ikut program merdeka pak” Tanya mahasiswi semester sepuh dengan jumlah SKS lulus tidak sampai 100, kepada saya. Harapannya sih ingin melakukan aktifitas lain di luar kampus sebagai ganti mata kuliah yang sampai hari ini takut ia hadapi.

Beberapa mahasiswa baru terlihat kebingungan. Mereka sibuk bertanya tentang nama-nama dosen yang mungkin saja mengajar mereka pada kelas berikutnya.

Kadang lugunya berubah jadi lucu takkala yang ditanyai adalah orang yang dicari. Bapak kenal pak Budi? Tanya mahasiswa baru ke pak Budi. Alis pak Budi mengerenyik, bingung mau menjawab apa. Tentu saja Pak Budi tidak bisa melihat Pak Budi sendiri, kecuali waktu itu ada cermin.

Selain itu, Pak Budi juga sedikit bingung, kok mereka bisa-bisanya tidak mengenali dosen-dosen mereka sih.

Secara foto-foto dosen sudah mejeng di website resmi Prodi sambil senyum, lengkap dengan karya -karyanya yang terindeks Rawhana, Secopas atau Web for Scientist tapi non scientist juga harus punya. Bahkan dengan IPR-IPRnya yang sudah mengalahkan Edison. Sekalipun tak ada satu buku sains pun yang membanggakan Edison karena karyanya banyak ciplakan.

“Lah kan mereka generasi milenial kan? Generasi yang harusnya lebih melek teknologi dari kami. Generasi yang bisa mengakses ribuan informasi di genggaman mereka” pikir Pak Budi dalam hati.

Yah ente salah Pak Budi!!!!

Mereka sangat melek teknologi

Di HP mereka itu sudah terinstal aplikasi bertukar informasi super penting seperti Tok Tok. Yah ini bisa membuat mereka menikmati sisi seni tari dansa yang cetar membahana dari sebaya mereka. Ada banyak kok disana!!!

Kalau sednag ada uang dan jiwa dermawan mereka muncul, Kadang mereka juga membantu wanita yang kekurangan uang di aplikasi Mu Chat. Tidak seperti Pay Pal dan Google yang nyaris kena blokir, karena dianggap gak begitu berguna bagi warga sini.

Pak Budi ini sedikit arogan emang!, sedikit rasis!

Ada mahasiswa dari kota kembang yang ia tolak mentah-mentah. Katanya, “kamu nyebarin HIV di kampung mu saja sanah jangan di sini”.

Padahal kan!!! gak semua mahasiswa dari sana yang suka pergaulan bebas pak.

“Pak budi, pak budi!” ucapku dalam hati.

Itukan hanya ratusan mahasiswa pak yang terdeteksi positif HIV!!! Tidak semua,. Itu cuman data dari mahasiswa yang sudah cek darah kok. Bukan semuanya,.. Jadi yang gak cek darah jangan digeneralisasi lah.

Sisanya kan, bisa saja tidak terkena HIV kan…

Pergaulan bebas itu bukanlah pelanggaran hukum.

Toh mereka belum punya pasangan resmi, jadi tindakan asusila itu bukan tindakan pidana kok. Kecuali mereka sudah punya suami atau istri, barulah ini urusan pidana.

Mending pak Budi belajar deh menghargai perbedaan pendapat, bahwa Kelamin itu beda dengan Gender sebagaimana dunia “akademik” mengajari kita berfikiran terbuka.

“Gender itu bebas, yah. boleh saja seseorang punya titit, tapi belum tentu laki, apalagi perempuan!!!!”

Kita ini warga yang berketuhanan yang maha Esa yah!!! dan menurut tuhan, adam itu diciptakan dengan steve,…

Tapi jangan tanya tuhan yang mana.

Soalnya pengetahuan saya masih minin. Sepengetahuan saya, di Kristen, Katolik, dan Islam masih pada gak berkembang. Soalnya di agama-agama ini, Adam masih diciptakan bersama Eve.

Yah pikiran saya memang sedikit liar. Kadang melanglang buana jauh terbang ke angkasa menikmati sejarah di masa lampau melalui pemandangan langit malam ini. Sejarah yang paling singkat yah peristiwa lima tahun yang lalu dari bintang Centauri. Mungkin saja malam ini di titik kecil langit gelap itu, sudah tidak ada lagi. Entah karena meledak atau di gondol maling.

Saya akan sadar lima tahun ke depan setelah semuanya tiada.

Saya baca tentang sejarah di malam hari ini melalui buku-buku Robert L. Wolke yang menjawab banyak pertanyaan sains dengan cara nyeleneh. Harapannya tanpa harus kuliah, para orang tua bisa menjawab rasa penasaran anak mereka tentang sains.

Wolke ini salah satu orang yang membuat saya suka dengan fisika, selain guru SMP saya, Pak Nas yang mata melotot ketika menjelaskan konsep fisika di papan tulis. Sangkin sukanya dengan fisika, saya pilihlah kuliah di jurusan fisika. Sampai akhirnya menyandang dua gelar yang sama.

Ketika saya ditanya, kamu Sarjana fisikanya apa?

Saya bisa jawab dengan lantang HRD itu dengan lantang,

Saya Kuliahnya Bidang Pendidikan Fisika, Jadi saya datang untuk menyelesaikan masalah di bidang pendidikan fisika. Tak usah ragu dengan nilai-nilai yang tertera di sana. Itu semua mewakili apa yang ada di kepala saya dan apa yang saya pelajari.

Tak usah ragu pak, saya adalah jawaban dari masalah perusahaan bapak yang memutuskan menuliskan membutuhkan sarjana pendidikan fisika di lowongan pekerjaan yang bapak iklankan.

Ahmad Dahlan God does not play dice with the Cosmos.

Tinggalkan Balasan