Penelitian dengan pendekatan kuantitatif selalu dimulai dari masalah-masalah yang ingin diselesaikan. Masalah urgent yang ditemukan lalu dikemukakan dalam bagian Latar Belakang kemudian dibatasi dan dipilih berdasarkan urensitas dan dapat diselesaikan. Masalah ini selanjutnya disebut sebagai Rumusan Masalah Penelitian. Muara dari Rumusan masalah ini adalah hipotesis penelitian.
Daftar Isi
Hipotesis Dalam Penelitian
Hipotesis adalah kata yang diserap dari bahasa latin yakni (1) Hypo yang berarti lemah, tidak stabil, atau belum kuat dan (2) Tesis yang berarti Teori. Hipotesis dinyatakan dalam bentuk pernyataan (Teori) yang disusun dari fakta-fakta ilmiah tentang sebuah objek namun belum dibuktikan kebenarannya sehingga masih dianggap lemah. Dengan demikian Hipotesis dapat dikatakan sebagai dugaan sementara terkait dengan objek yang sedang dikaji.
Sekalipun memiliki posisi lemah, Hipotesis bukanlah dugaan yang dibuat-buat begitu saja. Hipotesis harus disusun berdasarkan data-data ilmiah yang bersinggungan dengan variabel baik secara langsung maupun tidak. Proses penyusunan dilakukan dengan pendekatan rasionalisme dan logis.
A. Rasionalisme dan Empirisme
Konsep utama penyusunan Hipotesis dalam penelitian adalah pendekatan rasionalisme-empirisme. Rasionalisme ditunjukkan melalui kajian teori, konsep dan hasil penelitian yang disusun secara rasional sehingga menarik kesimpulan antara aspek-asek tersebut. Penelitian merupakan langkah empirik untuk membuktikan rasionalisme yang disusun di awal.
Contoh sederhana penyusunan hipotesis misalnya
- Sebuah penelitian menunjukkan bahwa Penerapan Model Project Based Learning dalam pembelajaran meningkatkan aktivitas peserta didik.
- Seorang pakar berpendapatan bahwa Hasil belajar peserta didik bergantung dengan aktivitas yang mereka lakukan selama proses pembelajaran
Dari dua fakta ini kita misalnya saja Model Project Based Learning adalah X, Aktivitas Belajar adalah Y dan Hasil belajar adalah Z. Pernyataan pertama menunjukkan Jika X maka Y, dan pernyataan kedua menunjukkan jika Y maka Z. Dengan demikian Hubungan antara X dan Z dapat dihubungkan dengan Y yakni Jika X maka Y.
Berdasarkan rasional ini maka kita dapat menyusun hipotesis dalam bentuk
Penerapan Model Project Based Learning dapat Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik.
Penyusunan hipotesis dapat dilihat dalam bentuk bagan yang disebut kerangka pikir. Pernyataan di atas selanjutnya disebut sebagai Hipotesis. Kendati berdasarkan teori dengan pendekatan rasionalisme, Hipotesis di atas terlihat benar namun sebagai peneliti, sebuah kebenaran tidak cukup ditinjau dari satu metode saja. Jika memungkinkan menggunakan banyak metode maka akan dilakukan pembuktian dengan metode lain.
Cara paling dekat membuktikan dugaan di atas dengan menggunakan metode empirik yakni melalui penelitian. Maka disusunlah penelitian untuk membuktikan kebenaran dugaan di atas secara empirik. Penelitian ini juga secara otomatis menaikkan posisi dugaan sementara yang telah disusun menjadi Hipotesis Penelitian.
B. Jenis-Jenis Hipotesis Penelitian
Sebagaimana bentuk rumusan masalah yang disusun dalam penelitian, Hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah tersebut. Hal ini membuat bentuk atau jenis hipotesis memiliki bentuk yang sama dengan rumusan masalah. Dengan demikian akan ada tiga bentuk bentuk dari hipotesis yakni:
- Hipotesis deskriptif
- Hipotesis asosiatif
- Hipotesis komparatif
I. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan dugaan yang digunakan untuk menjelaskan keadaan suatu variabel secara mandiri tanpa membandingkan maupun menghubungkannya dengan variabel lain. Hipotesis ini biasanya digunakan dalam penelitian yang bertujuan untuk mengetahui nilai, karakteristik, atau kondisi suatu objek penelitian berdasarkan data yang diperoleh.
Menyusun Hipotesis Deskriptif
Contoh hipotesis deskriptif dalam penelitian pendidikan misalnya:
- Berdasarkan kajian pustaka, seorang peneliti menduga bahwa Model Pembelajaran PjBL dapat membantu peserta didik menguasai Kompetensi dasar Materi Hukum Newton.
- Standar lulus suatu kompetensi di sekolah tersebut adalah 70.
Berdasarkan dua point di atas maka kemungkinan bentuk hipotesis deskriptif
Penguasaan kompetensi dasar materi Hukum Newton peserta didik yang diajar menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) mencapai atau melebihi standar kelulusan yaitu 70.
Jika penelitian dari sampel random maka bisa dilanjutkan pada uji inferensial keberlakuan hipotesis pada populasi dapat dibuktikan dengan uji hipotesis deskriptif.
Uji hipotesis inferensial untuk pernyataan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
dengan adalah rata-rata penguasaan kompetensi dasar materi Hukum Newton peserta didik yang diajar menggunakan Model Pembelajaran PjBL.
Hipotesis nol () menyatakan bahwa rata-rata hasil belajar peserta didik belum mencapai standar kelulusan, sedangkan hipotesis alternatif () menyatakan bahwa rata-rata hasil belajar peserta didik telah mencapai atau melebihi standar kelulusan 70.
II. Hipotesis Asosiatif
Hipotesis asosiatif adalah adalah dugaan sementara yang menunjukkan hubungan antara dua buah variabel atau lebih. Hipotesis ini digunakan untuk mengetahui apakah suatu variabel memiliki keterkaitan dengan variabel lainnya, baik hubungan yang bersifat positif, negatif, maupun timbal balik.
Menyusun hipotesis asosiatif
Dalam sebuah kajian teori ditemukan fakta, teori atau konsep bahwa:
- menunjukkan bahwa minat belajar (x) seorang siswa mampu membuat siswa lebih aktif dan menghabiskan waktu lebih lama belajar (y).
- Siswa yang belajar dengan durasi yang lebih lama (y) memiliki hasil belajar yang lebih tinggi (z).
Dari pernyataan tersebut dapat disusun rasional jika X maka Y, Jika Y maka Z, dengan demikian Jika X maka Y. Dengan demikian akan terbentuk hipotesis asosiatif yakni :
Terdapat hubungan positif antara minat belajardengan hasil belajar peserta didik.
Uji hipotesis asosiatif dapat dirumuskan sebagai berikut:
Hubungan Minat Belajar dengan Durasi Belajar
Keterangan:
menyatakan tidak terdapat hubungan antara minat belajar dengan durasi belajar siswa, sedangkan menyatakan terdapat hubungan positif antara minat belajar dengan durasi belajar siswa.
Catatan Hipotesis Asosiatif menunjukkan hubungan variabel yang sama-sama dapat diukur dari berasal dari skala yang sama.
III. Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan hipotesis yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antara dua kelompok atau lebih terhadap suatu variabel yang diteliti. Hipotesis ini bertujuan membandingkan kondisi, kemampuan, hasil, atau karakteristik antar kelompok berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian. Dengan menggunakan hipotesis komparatif, peneliti dapat menentukan apakah perbedaan yang terjadi bersifat signifikan atau hanya terjadi secara kebetulan sehingga hasil penelitian dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan atau penarikan kesimpulan ilmiah.
Uji Hipotesis Komparatif
Menyusun hipotesis Komparatif
Uji hipotesis komparatif digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antara dua kelompok atau lebih. Bentuk umum uji hipotesis komparatif dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
menyatakan tidak terdapat perbedaan rata-rata antara kedua kelompok yang dibandingkan, sedangkan menyatakan terdapat perbedaan rata-rata antara kedua kelompok tersebut.
Apabila penelitian melibatkan arah tertentu, maka hipotesis alternatif dapat ditulis:
atau
sesuai tujuan penelitian yang dilakukan.
C. Hipotesis Alternatif dan Hipotesis Nul
Hipotesis penelitian terdiri dari dua jenis yakni Hipotesis Alternatif dan Hipotesis Nol.
a. Hipotesis Alternatif
Hipotesis Alternatif disimbolkan Ha adalah hipotesis yang secara langsung menunjukkan peran atau nilai sebuah variabel dalam penelitian. Ha ini adalah hipotesis penelitian yang disusun berdasarkan kajian yang telah dilakukan sebelumnya baik itu penelitian awal ataupun kajian teori.
b. Hipotesis Nul
Hipotesis Nul disimbolkan H0 adalah pernyataan yang bertolak belakang dengan Hipotesis penelitian. Hipotesis Nul ini menunjukkan bahwa dugaan yang dibangun oleh peneliti berdasarkan kajian yang disusun tidak benar, namun tidak dilakukan secara ilmiah.
Hipotesisi ini lahir sebagai bentuk etis dari Hipotesis Penelitian yang diuji. Dimana analisis data dilakukan untuk membuktikan bahwa Hipotesis Nul ini salah. Konsep ini muncul dengan alasan jika peneliti sudah yakni bahwa Hipotesis Penelitian sudah benar maka tidak perlu lagi dilakukan penelitian untuk membuktikan penelitian tersebut.
Konsep H0 ini jugalah yang membuat sebuah penelitian disusun untuk ditolak dengan demikian maka Hipotesis Alternatif harus diterima. Dengan demikian pernyataan Ho adalah negasi dari Ha.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.