Kerangka pikir penelitian khususnya dalam penelitian eksperimen merupakan alur pemikiran yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat berdasarkan teori dan penelitian terdahulu. Kerangka pikir digunakan untuk menunjukkan bagaimana suatu perlakuan dapat memengaruhi hasil penelitian serta menjadi dasar dalam penyusunan hipotesis.
Daftar Isi
Kerangka Pikir
Kerangka pikir secara praktis diartikan sebagai alur logis (rasional) yang digunakan untuk menggambarkan solusi yang diberikan dalam mengatasi masalah utama dalam penelitian. Gambaran terdiri dari hubungan antara teori, konsep, atau penelitian sebelumnya yang menunjukkan relasi antara variabel manipulasi (Treatment) memberi dampak ke variabel respon.
Bentuk relasi variabel yang disusun dalam kerangka fikir adalah pendekatan rasional baik langsung antar variabel manipulasi-respon maupun ada variabel lain yang baik itu intervening ataupun variabel moderasi. Tujuan dari kerangka fikir ini sendiri adalah menunjukkan alur hipotesis dapat terbentuk atau dengan kata lain hipotesis penelitian itu sendiri.
Contoh Kerangka Pikir Penelitian
Misalkan sebuah penelitian berjudul “Pengaruh Model Problem Based Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kritis Peserta Didik”.
Dari judul penelitian ini memiliki dua variabel yakni :
- Variabel Manipulasi Model Problem Based Learning (PBL)
- Variabel Respon Keterampilan Berfikir Kritis (CT).
Pada kasus ini, Kerangka pikir secara sederhana menunjukkan bagaimana Model PBL dapat meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis. dengan demikian, Kajian Pustaka akan disusun terkait Model PBL, Apa saja yang dilakukan dalam pembelajaran, sintaks apa saja yang memungkinkan pelatihan keterampilan berpikir kritis selama mengikuti proses pembelajaran dengan model PBL. Selanjutnya kajian lain dilakukan terkait dengan Keterampilan CT. Kajian diutamakan penyebab CT rendah baik itu terkait usia peserta didik (berpengaruh pada level perkembangan kognitif), penghambat perkembangan CT, hal-hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan CT.
Sekarang kita punya dua variabel utama yakni X untuk PBL dan Y yakni CT. Misalkan hasil kajian pustaka dirangkum secara runut menjadi demikian.
PBL
- PBL adalah model pembelajaran yang melibatkan aktivitas siswa secara mandiri dalam mencari solusi dari masalah yang diberikan oleh guru.
- Masalah ini sifatnya real atau nyata sehingga akan memiliki solusi unik bergantung dari kondisi di kelas masing-masing.
- Siswa akan mencari informasi terkait dengan solusi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah.
- Solusi yang ditemukan kadang disesuai dengan kondisi yang mereka alami di dalam kelas sehingga mereka harus menyusun strategi penyelesaian masalah.
- Proses penyelesaian masalah ini melatih (1) Kemampuan Analisis dan Menyusun Alasan, (2) Menyusun Argumen, (3) Menyusun Solusi praktis, dan (4) Mengidentifikasi bias informasi yang menghasilkan perbedaan hasil orang lain dan yang mereka temukan.
CT
- Keterampilan CT adalah proses sistematis, logis, dan objektif untuk menganalisis, mengevaluasi, dan merespons informasi atau situasi guna memecahkan masalah.
- Rendahnya CT disebabkan oleh kebiasaan siswa dalam menghafal solusi dari masalah yang ditemukan sehingga CT tidak terlatih.
- CT dapat dilatihkan pada proses mencari solusi pada masalah yang ditemukan dengan solusi yang unik sehingga peserta didik harus menyusun sendiri solusi yang dibutuhkan.
- Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model yang bisa digunakan sebagai simulasi peserta didik dalam menyelesaikan masalah nyata dengan solusi yang unik.
Kedua alur ini kemudian disatukan menjadi secara runut sebagai berikut
- PBL dimulai dengan masalah nyata yang membutuhkan solusi unik.
- Solusi unik ini melatih (1) Kemampuan Analisis dan Menyusun Alasan, (2) Menyusun Argumen, (3) Menyusun Solusi praktis, dan (4) Mengidentifikasi bias informasi yang menghasilkan perbedaan hasil orang lain dan yang mereka temukan. Keempat aspek ini adalah bagian keterampilan berpikir kritis.
- Kebiasaan melatih menyelesaikan solusi membiasakan siswa berfikir kritis. Hal ini membuat keterampilan CT Meningkat
- Peserta didik yang belajar dengan PBL akan terbiasa berlatih dalam menggunakan CT dalam menyusun solusi. Siswa yang aktif menggunakan CT akan memiliki skor keterampilan meningkat.
- Dengan demikian Model PBL akan membuat Keterampilan CT Peserta Didik Meningkat secara signifikan (Hipotesis Penelitian)
Bagan Kerangka Pikir
Untuk menggambarkan Kerangka Pikir dalam bentuk bagan seperti berikut:

Berdasarkan kerangka pikir ini akan menghasilkan bentuk-bentuk hipotesis
- Penerapan Model PBL secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. (One Shoot Case Study)
- Terdapat perbedaan keterampilan berfikir kritis peserta didik antara sebelum dan setelah penerapan pembelajaran PBL. (One group pretest-postes only)
- Terdapat perbedaan positif siginifikat keterampilan berpikir kritis peserta didik yang belajar dengan Model PBL dan Model Konvensional (Postest Only Control Group)
Catatan : Ini hanya contoh hipotesis, bentuk hipotesis disusun kembali dari seberapa kuat kajian pustaka menunjukkan hubungan masing-masing variabel. Jika lemah maka penelitian disusun dalam bentuk pre eksperimen, jika kajian pustaka menunjukkan hubungan kuat dan sudah banyak dilakukan ulang maka hipotesis bisa lebih presisi dengan memberikan nilai siginifikansi.
